Selamat datang di website SMAN 27 Kab. Tangerang - Sekolah Negeri Tingkat Menengah Atas Terbaik di Tangerang
Thursday, 22 October 2020 12:21

SANTRI HIJRAH (cerpen)

Written by AKSARA MALAM
Rate this item
(0 votes)

SANTRI HIJRAH

 

                 Rehan Adima Putra sebuah nama yang tertulis di sebuah berkas yang di pegang Rehan sendiri. “Ngapain sih pah, Rehan di masukin pesantren? Di kekang tau gak” Sahutan Rehan di amping Papahnya yang sedang menyetir. “Papa gak sanggup sama kelakuan kamu Han” Ucap papah.

                 Bagaimana tidak? Rehan di keluarkan dari sekolah karena merokok di area sekolah dan banyak kasus lainnya. Mungkin guru sudah tak tahan dengan kenakalan Rehan,siapa sangka Rehan anak dari Arie, orang terpandan di sekolah sebagai donatur paling sering menyumbang.

                 Pernah ditangkap polisi karena balap motor, membuat semua orang geleng-geleng kepala mendengarnya dan mungkin sekarang sudah puncak kesabaran Arie untuk membiarkan Rehan tetap tinggal bersama orang tuanya.

                 Sekarang Rehan dilempar ke Surabaya tempat dimana Neneknya tinggal tak jauh dari sana adalah Pesantren khusus Surabaya. Sampai di Pesantren, Arie dan Rehan turun dari mobil dengan koper milik Rehan yang di turunkan dari bagasi belakang . “

                 Rehan mau di suruh tinggal disini ?” Tanya Rehan menunjuk dirinya sendiri. “iyalah, Kamu mau tinggal dimana lagi ?” .

“Kayak kontrakan yah, pasti sempit banget deh,pah Rehan pulang aja yah. Rehan gak bakal bisa tidur disini” Mustahilmengubah keputusan Arie walaupun itu. Ana yang berstatus sebagai Istri dan ibu dari Rehan.

 

                 “Siapa suruh kamu nakal gak ketulungan, ini bukan kontrakan dan bukan rumah. Jadi, hormati semua orang disini. Percaya sama papa kamu gak bakal di telantarin” Ujar Ana. Lalu masuk kedalam. “Auto mkan ikan asin tiap hari ini mah “ Gerutu Rehan lalu masuk ke dalam .

                 Rehan menatap bingung orang-orang di dalam laki-laki memakai peci,celana hitam panjang dan memakai baju koko, ini hari senin. Bukan hari Jum’at lalu ia melihat lagi laki-laki yang sedang duduk berpakaian koko dengan Al-Quran kecil ditangannya.

                 Sedangkan dia, Rehan sendiri memakai levis ,sepatu Converse dan hoodie dan gelang di lengan kanannya. Dia merasa seperti titik hitam di atas kertas putih. Merasa aneh sendiri....Ck...Ck...Ck... Skip> sudah satu minggu Rehan disana .

                 Memakai baju koko,melaksanakan shalat wajib,duha,dan tahajud. Hafalan Qur’an semua ini membuat Reahn gila. Gak ada HP,motor, TV,obrolan,bahkan terparah Rehantidak melihat puntung rokok dan tidak bisa merokok.

                 Rasanya ingin kabur dari sini rokok itu bagai makanannya setiap hari. Sekarang baju keren Rehan pun hilang entah kemana tergantikan dengan pakaian hitam putih dan peci dan yah satu lagi dia tak melihat wajah cewek karena cewek-cewek disana memakai cadar, gila bukan main kenapa merek betah seperti ini?Rehan sekarang rindu masakan ana ,mamanya semur jengkol tercinta.

                 “Rehan dipanggil ke ruang BK “ Sahut adi setelah mengucap salam. Dalam satu minggu ini sudah panggilan yang ke enam.

                 Rehan memang sengaja membuat banyak masalah agar dia keluar dari pesantren,ini satu-satunya jalan untuk keluar.

 

 

                 Mendengar kabar itu Rehan bersorak ria karena bisa jadi panggilan ini keluhan klarifikasi dari lima masalah yang dia buat enam hari lalu . “Tok..Tok.. assalamualaikum” Rehan masuk setelah mendapat balasan dari guru di dalam.

“masuk nak” Sahut guru itu lembut dengan senyum.

                 Rehan keluar satu jam setelah ia menghadap ustad di ruang BK tatapan tak mengerti pun di dapat santri yang berpapasan dengan Rehan .

                 Pasalnya semenjak Rehan keluar dari ruang BK pandangannya terus kebawah , lalu ia memegang Al-Qur’an kecil dan sebuah kertas berisikan catatan dan anehnya lagi biasanya Rehan ke kamarnya sehabis ruang BK sekarang dia malah ke tempat wudhu setelah itu ke musholah .

                 Benar-benar membuat tanda tanya besar di kepala para santri yang tak biasa melihat sikap Rehan seperti itu. Firman selalu teman Rehan di pesantren ini pun merasa bingung dan heran.

                 Melihat sikap dan kelakuan Rehan yang tak biasa. Firman segera meghampiri Rehan kesambet setan tobat kan gak lucu. “Rehan Lu kenapa? Tumben tobat” sahut Firman merangkul bahu Rehan dan berkata diiringi tawa bukannya menjawab Rehan malah memberikan sabuah kertas catatan bertuliskan “ Saya tidak akan pernah lelah menyaring air keran menjadi bening” “Ingat nak, jangan pernah malu untuk rukun pada agama hanya karena dulu kamu seorang yang nakal”.

 

~Aksara Malam

Read 74 times Last modified on Thursday, 22 October 2020 12:24
More in this category: IJONG MADOLOS (cerpen) »

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.