Selamat datang di website SMAN 27 Kab. Tangerang - Sekolah Negeri Tingkat Menengah Atas Terbaik di Tangerang
Thursday, 22 October 2020 12:31

MENGAPA HARUS AKU ? (Feature)

Written by malammerah
Rate this item
(1 Vote)

warna 27

 

 

MENGAPA HARUS AKU ?

 

            Menghafal Al-Qur’an di lingkungan sekolah umum apalagi bukan lingkungan Pesantren tak selalu menjadi hal yang mudah. Ketika itu Fathimah Hurun ‘Aini alias Fahira, muslimah jurusan Ilmu Pengetahuan Alam ini merasakan hari-hari yang buruk.

            “Akhir kelas Sepuluh adalah urusan serius bagiku.” Kata dia. Ia berlari mengumpulkan pensil dan buku tulis “jadul”nya sembari menggigit bibir.

            Fahira pun menorehkan tiga kata dalam diarinya: “Mengapa harus aku?” Katanya dengan senyum manisnya. Namun ternyata tak terlalu buruk. Sebab jawabannya terbukti sudah ketika tiga Juz dalam Al-Qur’an telah rampung dihafalkannya.

            “Ya, tak terasa aku sudah setahun menghafal Al-Qur’an ini.” Gumam hati kecilnya saat mengirimkan sebuah surat yang dikirimkan untuk mentornya.

            Saat ini, mantan sekretaris OSIS periode 2018/2019 sangat menyadari pandangannya tentang kebutuhan untuk menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga enam bulan masa kelulusannya.  

            Di sekolah menengah atas yang terletak di kota S, di mana pelajar muslim membuat dinding pemisah tentang kecintaannya terhadap Al-Qur’an, maka menjadi seorang penghafal dapat meningkatkan cibiran bahkan bisa jadi tekanan baginya dalam memutuskan Mengapa Harus jadi Sang Penghafal ?

 

 

Padahal kelebihan otak yang dimilikinya  menjadi modal untuk menjadi Sang Juara kelas atau sekolah itu.

            Dikatakannya, meskipun masih sering mendapat kritikan atas pilihannya, namun tidak  boleh ada yang menghambat cita-citaku menjadi Sang Hafizhoh.

            Fahira pun menceritakan sepenggal pengalamannya di sela-sela belajarnya.

            Setahun yang lalu guruku pernah berbicara di depan kelas, dia berjalan di depanku dan berkata, “Kelebihanmu justru harus optimalkan dalam jurusanmu. Karena kamu bukan di Pesantren !” kenangnya. Fahira membiarkannya dan berlalu meski sempat terkejut.

            Fahira melanjutkan sambil tersenyum, “Akhirnya Allah kasih aku sebuah kepastian atas nasihatmu, duhai guruku.”

            Suatu malam Fahira membuka buku catatan sebuah mata pelajaran yang kebetulan akan diteskan esok hari. Tiba-tiba buku yang dibukanya bertuliskan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang pernah dihafalnya. “Aku terkejut sambil beristighfar, Khawatir gangguan setan sambil kututup buku itu”. Paparnya.

Dicoba Untuk kedua dan ketiga kalinya, tetap saja buku itu masih bertuliskan ayat Al-Qur’an. Sebelum ditutupnya, tiba-tiba ada suara bisikan di telinga kanannya, “ Jangan kamu baca buku pelajaran itu, baca Al-Qur’an saja !” Fahira menirukan suara itu. Sebelum tidur fahira membaca kembali hafalan ayat Al-Qur’an.

Alhamdulillah, pagi itu ujian harian berjalan lancar dan semua soal mata pelajaran itu dikerjakannya dengan mudah, layaknya membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Tukasnya. 

Fahira bercerita, ayah dan ibunya seorang muslim biasa. Dia mengatakan, orang tuanya menghendaki dirinya untuk menjadi seorang dokter  atau akunting. Tapi keputusan itu terkubur dengan seringnya ia meminta ibunya agar menguji kembali hafalannya sebelum ujian Tahsin atau Tahfizh di depan  murobbinya.

Sesekali Fahira mencium tangan bapak dan ibunya  bila telah menyelesaikan hafalannya, seraya memohon restu, “Berbanggalah  dengan kemenangan yang besar ini, ketika orang lain berbangga-bangga dengan gelar sarjana atau profesi keunggulan mereka. Sedangkan Aku akan memberikan mahkota syurga padamu atas izin Allah karena hafalan ku ini.”

 

~malammerah

Read 67 times Last modified on Thursday, 22 October 2020 12:38

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.